Bangun Rumah Hanya Rp60 Juta? Ini Caranya

10 September 2018 07:30:00
Bisnis.com, JAKARTA - Rumah instan sederhana sehat atau Risha, konsep pembangunan rumah inovasi Pulitbang Perumahan dan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menjadi solusi alternatif hunian pilihan milenial.

Travel Blogger Mochamad Takdis membagikan pengalamannya membangun rumah dengan menggunakan sistem Risha di akun twitternya dan mendapatkan respon positif oleh pengikutnya yang mayoritas merupakan generasi milenial.

"Saya mau sharing tentang usaha saya bikin rumah, karena ternyata, bikin rumah itu tidak begitu mahal! Apalagi untuk milenial yang katanya tidak akan bisa beli atau bikin rumah. Mari kita patahkan anggapan itu!," ujar Adis, sapaan akrab Mochamad Takdis, dikutip dari akun twiterrnya, Minggu (9/9/2018).

Menurutnya, pembangunan rumahnya dengan menggunakan konsep Risha mampu menekan jumlah dana yang harus dikeluarkan, bahkan tidak menghabiskan anggaran lebih dari Rp1 miliar yang sudah termasuk dana pembangunan dan harga beli tanah.

Dia mengaku telah membeli tanah di daerah Utara Bandung seharga Rp2,3 juta per meter persegi dengan luas tanah 230 meter persegi atau dengan total Rp529 juta pada tahun lalu.

Dia mengatakan pembangunan rumah dengan teknik konvesional umumnya dikenakan tarif Rp4,5 juta hingga Rp6 juta per meter persegi sesuai dengan luas bangunan yang diinginkan.

"Kalau yang saya ingin itu rumah 2 lantai dengan ukuran luas sekitar 120 meter persegi, sehingga totalnya Rp540 juta hingga Rp720 juta ditambah harga tanah totalnya Rp1 miliar lebih. Kalau dengan Risha, bangun rumahnya tidak lebih dari Rp200 juta," ujarnya.

Bahkan ia mengatakan jika konsep bangunan rumah lebih sederhana dan terdiri atas satu lantai bangunan, maka total dana pembangunan yang dikeluarkan dengan menggunakan teknik Risha bisa mencapai Rp60 juta saja.

"Jadi, katakanlah kalian beli tanah 100 meter persegi dengan harga di bawah Rp100 juta. Banyak ini [tanah dengan luas tersebut], tapi ya lokasinya jauh dari kota. Terus, kalian bangun rumah dengan sistem Risha, ya paling abis Rp200 juta saja," papar dia.

Risha merupakan rumah terjangkau dengan konsep knock down yang proses pembangunannya tidak membutuhkan semen dan bata, melainkan dengan menggabungkan panel-panel beton dengan baut, sehingga pembangunan rumah ini dapat diselesaikan dengan waktu jauh lebih cepat.

Sistem Risha juga dikenal sebagai rumah anti gempa dan saat ini digunakan Kementerian PUPR untuk membangun ulang rumah masyarakat di Lombok terdampak bencana alam gempa.

Namun, pembangunan rumah dengan konsep Risha memiliki kelemahan yaitu struktur bahannya yang tebal dan kaku sehingga desain bangunan tidak fleksibel dan cenderung kaku.

Adis berharap dengan adanya sistem konsep Risha oleh Kementerian PUPR tersebut dapat mematahkan anggapan beberapa lembaga survey yang menyatakan milenial tidak bisa beli atau bangun rumah akibat menipisnya hunian yang terjangkau bagi milenial.

"Kalau properti semakin mahal, kita yang harus semakin pintar mengakalinya," ujar Adis.

Sumber : properti.bisnis.com
Tags

Artikel Terkait

Bangun Rumah Hanya Rp60 Juta? Ini Caranya

Bisnis.com, JAKARTA - Rumah instan sederhana sehat atau Risha, konsep pembangunan rumah inovasi Pulitbang Perumahan dan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menjadi solusi alternatif hunian pilihan milenial.Travel Blogger Mochamad Takdis membagikan pengalamannya membangun rumah dengan menggunakan sistem Risha di akun twitternya dan mendapatkan respon positif oleh pengikutnya yang mayoritas merupakan generasi milenial."Saya mau sharing tentang usaha saya bikin rumah, karena ternyata, bikin rumah itu tidak begitu mahal! Apalagi untuk milenial yang katanya tidak akan bisa beli atau bikin rumah. Mari kita patahkan anggapan itu!," ujar Adis, sapaan akrab Mochamad Takdis, dikutip dari akun twiterrnya, Minggu (9/9/2018).Menurutnya, pembangunan rumahnya dengan menggunakan konsep Risha mampu menekan jumlah dana yang harus dikeluarkan, bahkan tidak menghabiskan anggaran lebih dari Rp1 miliar yang sudah termasuk dana pembangunan dan harga beli tanah.Dia mengaku telah membeli tanah di daerah Utara Bandung seharga Rp2,3 juta per meter persegi dengan luas tanah 230 meter persegi atau dengan