(0)


JAKARTA, KOMPAS.com -  Bekasi dinilai sebagai kawasan yang paling potensial menjadi kota masa depan. Ini karena Bekasi punya sejumlah infrastruktur konektivitas paling lengkap dibanding kawasan lainnya.

Mulai dari Light Rail Transit (LRT), Bus Rapid Transit (BRT), Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, Jalan Tol, Jalan Tol Layang, serta dilintasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Direktur PT Jababeka Tbk Sutedja Darmono mengungkapkan pendapatnya saat menjadi pembicara "Creating The Cities of The Future" pada Kongres Diaspora Indonesia ke-5 di Jakarta, Sabtu (10/8/2019).

"Seluruhnya berada dalam satu kawasan. Bekasi potensial dikembangkan sebagai transit oriented development (TOD). Karena kota masa depan adalah kota yang memudahkan warganya beraktivitas dalam tata kota yang saling terkoneksi," papar Sutedja.

Dia mencontohkan kota Shanghai, China. Kota ini memiliki kereta bawah tanah terpanjang dengan nama Shanghai Metro.

Kereta bawah tanah ini beroperasi sepanjang 548 kilometer, yang menghubungkan 14 dari total 17 distrik di kota tersebut.

Shanghai Metro dibangun tahun 1986 dan beroperasi pada 1993. MRT ini merupakan ketiga tertua di China setelah Beijing Subway dan Tianjin Metro.

"Warga Shanghai banyak yang menggunakan moda transportasi ini. Ke kantor, ke mal, ke mana-mana, mereka naik MRT. Sama dengan MRT Jakarta yang mampu mengubah perilaku warga dalam bertransportasi," tutur Sutedja.

Shanghai Metro pun termasuk salah satu pilihan transportasi favorit. Hal ini terbukti dengan catatan penumpang tahunan sebanyak 3,71 miliar orang pada 2018. Sementara jumlah  penumpang harian mencapai 13,29 juta pada 8 Maret 2019.

Selain terkoneksi dengan sejumlah moda transportasi, kota masa depan menurut Sutedja juga harus nyaman didiami.

"Tidak berpolusi, tidak terlalu ekstrim suhunya, tenang, dan memungkinkan warganya untuk lebih kreatif dan inovatif. Lebih ke smart city," kata dia.

Sutedja mengatakan, contoh paling bagus untuk mengembangkan smart city adalah Kota San Fransisco di Amerika Serikat.

Kota ini, kata Sutedja, memiliki ekosistem lengkap sebagai kota pintar, termasuk industri, inovasi, rancangan kota, konektivitas, dan lain sebagainya.

"San Fransisco adalah kota yang paling enak didiami, tech people itu orang-orang kreatif yang butuh konektivitas. Ini bagus. dan Bekasi adalah kawasan yang cocok untuk itu," ujar dia.

Jababeka sendiri sebagai sebuah township development yang awalnya berbasis kawasan industri 3.0 dengan banyak perusahaan berbasis manufaktur, akan lebih akomodatif terhadap tren baru.

"Sekarang ada kebutuhan industri 4.0, big data atau Internet of Things (IoT) dan lain sebagainya. Kami tengah merancang kawasan menuju ke sana dengan menerapkan konsep smart city," imbuh Sutedja.

Jababeka berencana membangun sillicon valley Indonesia, rumah bagi para tech people dengan sejumlah ekosistemnya.


Sumber : properti.kompas.com


Baca Artikel Terkait
Berita Terkini | 16 September 2019
Ini 4 Kota Paling Makmur di Tanah Air Versi REI, 3 Besar di Luar Jawa
Bisnis.com, JAKARTA — Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia merilis hasil penelitian tentang Indonesia City Prosperity Index 2019 atau Indeks Kemakmuran Kota.City Prosperity Index merupakan metode yang dikembangkan oleh UN-Habitat untuk memonitor implementasi dari Sustainable Development Goals (SDGs) dan New Urban Agenda.Ketua Umum DPP Persatuan Realestat Indonesia (REI) SoelaemanBaca Selengkapnya
Berita Terkini | 16 September 2019
Realisasi Program Sejuta Rumah 2019 Capai 894.000 Unit
Bisnis.com, JAKARTA — Target program sejuta rumah tahun ini mengalami kenaikan dari 1 juta unit pada 2018 menjadi 1,25 juta unit. Tiga bulan tersisa tahun ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat optimistis target bakal tercapai.Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Khalawi Abdul Hamid mengatakan bahwa PUPR optimistis bisa mencapai 1,25 jutaBaca Selengkapnya
Berita Terkini | 16 September 2019
Federasi Real Estat Dunia Turun Tangan Urusi BP2BT
Bisnis.com, JAKARTA – Menipisnya kuota fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan di seluruh Indonesia membuat pembeli hunian sudah tak boleh lagi bergantung pada fasilitas itu untuk membeli rumah.Pasalnya, karena ada beberapa bantuan subsidi lain seperti bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2BT) yang bisa dimanfaatkan.Untuk memulai pelaksanaan skema yang mendapat bantuan pembiayaan dariBaca Selengkapnya