(0)

EKONOMI INDONESIA TUMBUH 5,06% YOY DI 3Q 2017
Makro Update | 17 November 2017
Produk Domestik Bruto

EKONOMI INDONESIA TUMBUH 5,06% YOY DI 3Q 2017

Investasi dan Ekspor meningkat tapi Konsumsi tertahan

Pada kuartal 3 tahun 2017, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,06% yoy yang berarti sedikit lebih baik daripada kuartal 2 tahun 2017 dan kuartal 3 tahun 2016 yang masing-masing sebesar 5,01% yoy (Tabel 1). Namun jika dihitung kumulatif selama Sembilan bulan, maka pertumbuhan ekonomi sampai dengan bulan September 2017 (9M 2017) tumbuh 5,03% yoy, sedikit di bawah 9M 2016 sebesar 5,04% yoy tetapi lebih baik dari 9M 2015 yang tumbuh sebesar 4,78% yoy.

Dilihat dari sisi permintaan, yang ditunjukkan dengan PDB berdasarkan Pengeluaran pada Tabel 1, Konsumsi Rumah Tangga tumbuh stabil sebesar 4,9% yoy sejak kuartal 1 tahun 2017. Sedangkan Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga mengalami koreksi dengan hanya tumbuh sebear 6,0% yoy. Sementara Konsumsi Pemerintah meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan dana APBN pada kuartal 3. Secara keseluruhan, pertumbuhan Konsumsi membaik di kuartal 3 dengan pertumbuhan sebesar 4,8% yoy, meningkat jika dibandingkan dengan kuartal 2 yang hanya sebesar 4,1% yoy.

Pertumbuhan Investasi meningkat menjadi sebesar 7,1% yoy di kuartal 3 tahun 2017 yang merupakan pertumbuhan terbesar sepanjang tahun ini. Hal ini sejalan dengan data Realisasi Penanaman Modal 9M 2017 yang tumbuh sebesar 13,2% yoy, terutama didorong oleh pertumbuhan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang tumbuh sebesar 23,1% yoy, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh sebesar 7,9% yoy. Yang menarik terdapat perbedaan industri yang dituju oleh PMDN dan PMA. Investor domestik tampaknya lebih fokus pada sektor yang terkait dengan konsumsi masyarakat sehingga investasi dipusatkan pada industri makanan, transportasi dan telekomunikasi. Sementara investor asing lebih menyasar industri pertambangan dan pengolahan terutama industri logam dasar dan elektronik.

Tabel 1. Pertumbuhan tahunan PDB berdasarkan pengeluaran dan sektor (industri) kuartalan



Sumber: BPS

Sisi perdagangan internasional mengalami perbaikan pertumbuhan di kuartal 3 tahun 2017 dimana pertumbuhan Ekspor melonjak menjadi 17,3% yoy, padahal pertumbuhannya pada kuartal sebelumnya hanya 3,4% yoy. Pertumbuhan ini tidak terlepas dari membaiknya harga komoditas global, karena perlu diakui bahwa 60% ekspor Indonesia masih terkait dengan komoditas. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan Ekspor Barang Non Migas yang meningkat sebesar 20,5% yoy pada kuartal 3 2017.

Di sisi lain, pertumbuhan Impor melonjak tajam dari 0,6% yoy di kuartal 2 2017 menjadi 15,1% yoy di kuartal 3. Peningkatan ini tidak terlepas dari proyek infrastruktur pemerintah yang mendorong Impor Barang Non Migas meningkat tajam dari hanya 1,7% yoy di kuartal 2 2017 menjadi 21,1% yoy di kuartal 3 2017.

Sementara dari sisi penawaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor Administrasi Pemerintah sebesar 43% yoy yang lebih disebabkan oleh disalurkannya anggaran pemerintah pada kuartal 3 2017. Sektor Informasi dan Komunikasi masih menunjukkan pertumbuhan yang tinggi, yaitu sebesar 9,4% yoy, namun lebih rendah daripada kuartal 2 2017. Sektor Konstruksi meningkat sebesar 7,1% yoy seiring dengan program Infrastruktur Pemerintah, sedangkan sektor Transportasi dan Pergudangan diuntungkan oleh efek hari raya pada akhir kuartal 2 sehingga meningkat sebesar 8,3% yoy pada kuartal 3 2017.

Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi tumbuh sebesar 6,4% yoy sejalan dengan meningkatnya laba perbankan di tengah penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 100bps selama satu tahun terakhir. Hingga bulan Agustus 2017 laba bersih perbankan tumbuh sebesar 17,7% yoy yang ditopang oleh meningkatnya pendapatan bunga dan efisiensi. Hal ini mengingat pertumbuhan kredit perbankan sampai dengan Agustus 2017 baru sebesar 8,3% yoy.

Membaiknya harga komoditi global mendorong pertumbuhan sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 1,8% yoy padahal pada kuartal 1 2017 pertumbuhannya masih negatif. Sementara Industri Pengolahan yang memberikan sumbangan yang terbesar terhadap PDB Indonesia, pertumbuhannya relatif stabil pada 4,2% yoy.

Tabel 2. Pertumbuhan tahunan PDB berdasarkan pengeluaran dan sektor (industri) akumulasi 9 bulan



Sumber: BPS

Meskipun pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga stabil pada level 4,9% yoy, namun memunculkan polemik apakah daya beli masyarakat turun atau masyarakat menunda konsumsi. Pada dasarnya kedua hal tersebut terjadi di Indonesia pada saat ini, dimana penurunan daya beli dialami oleh kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah seiring dengan turunnya penghasilan riil mereka. Sementara untuk kelompok masyarakat kelas menengah ke atas yang terjadi adalah kombinasi antara menunda konsumsi dan mengubah konsumsi menjadi saving (menabung). Hal ini tidak terlepas dari turunnya kepercayaan (confidence) mereka untuk melakukan konsumsi (spending) di tengah kondisi ekonomi yang masih dianggap masih belum menentu.

Terlepas dari kedua masalah tersebut, pada grafik 1 terlihat pola Konsumsi Rumah Tangga yang dibagi menjadi 6 sub pengeluaran yaitu pengeluaran untuk makan dan minum selain di restoran, pengeluaran untuk piranti rumah tangga seperti pakaian dan alas kaki, pengeluaran untuk perlengkapan rumah tangga seperti TV dan lemari es, pengeluaran untuk Kesehatan dan Pendidikan, pengeluaran untuk Transportasi dan Komunikasi, serta pengeluaran untuk Rekreasi.

Grafik 1. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan jenis Konsumsi Rumah Tangga



Sumber: BPS

Pada periode commodity boom penghasilan masyarakat meningkat yang berujung pada meningkatnya konsumsi mereka. Pada periode inilah masyarakat mulai meningkatkan konsumsi untuk rekreasi.  Ketika penghasilan riil turun (upah nominal naik tapi jam kerja berkurang) sementara ada jenis konsumsi yang tidak bisa (tidak mau) diturunkan seperti Makanan dan Rekreasi, maka Rumah Tangga mulai mengurangi jenis konsumsi jangka pendek seperti Piranti dan Perlengkapan Rumah Tangga. Pengurangan kedua jenis konsumsi ini yang membuat penjualan ritel mengalami kelesuan.

Grafik 2. Pertumbuhan PDB sektor Transportasi dan Pergudangan



Sumber: BPS

Terkait dengan pengeluaran untuk Rekreasi, pada grafik 2 tampak pertumbuhan sektor Transportasi dan Pergudangan yang terus menunjukkan tren meningkat sejak tahun 2015. Seluruh moda angkutan mengalami percepatan pertumbuhan pada 9M 2017 kecuali Angkutan Darat yang stabil pada angka sedikit di atas 7% yoy.

Jika dilihat secara spasial, pada kuartal 3 2017 ada tiga kawasan di Indonesia yang mempunyai pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang lebih tinggi daripada PDB nasional yaitu kawasan Jawa (5,5% yoy), Bali dan Nusa Tenggara (5,2% yoy), dan Sulawesi (6,7% yoy). Namun jika dilihat pertumbuhan kumulatif 9 bulan maka hanya kawasan Jawa (5,5% yoy) dan Sulawesi (6,7% yoy) yang mempunyai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi daripada pertumbuhan PDB Nasional. Kawasan Timur Indonesia mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena ekonominya bersumber pada industri perikanan, perkebunan, dan pariwisata. PDRB Jawa relatif stabil yang bersumber pada industri manufaktur (pengolahan).

Grafik 3. Laju pertumbuhan PDRB per Kawasan (% yoy), 9M 2015-2016



Sumber: BPS

Sementara kawasan Sumatera, Kalimantan dan Maluku & Papua mempunyai pertumbuhan PDRB yanag lebih rendah dari pertumbuhan PDB nasional, yaitu masing-masing 4,4% yoy, 4,7% yoy dan 4,0% yoy, karena masih mengandalkan sumber pertumbuhan ekonomi dari industri batubara, migas, dan kelapa sawit. Membaiknya harga komoditas global akan kembali mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan-kawasan ini.

IMPLIKASI KEBIJAKAN

Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal 3 2017 yang hanya sebesar 5,06% yoy maka dibutuhkan usaha ekstra keras pada kuartal 4 2017. Investasi dan Ekspor diperkirakan masih akan meningkat namun sangat tergantung pada kondisi global, terutama Ekspor yang masih sangat tergantung pada perkembangan harga komoditi global.

Karena itulah diperlukan kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan Konsumsi lebih tinggi. Berkaca pada sumber masalah tidak bergeraknya Konsumsi Rumah Tangga, maka kebijakan yang harus diambil adalah kebijakan yang dapat menaikkan daya beli masyarakat melalui tambahan penghasilan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Sementara untuk kelas menengah ke atas dibutuhkan kebijakan yang dapat mendorong confidence mereka untuk terus berbelanja, karena sebenarnya mereka masih mempunyai daya beli. Kedua jenis kebijakan ini bukan hanya dapat mendorong konsumsi atas Piranti dan Perlengkapan Rumah Tangga namun juga dapat menggairahkan kembali penjualan ritel.

Kami melihat bahwa target pertumbuhan ekonomi tahun 2017 sebesar 5,1% yoy masih dapat tercapai asalkan semua kerja keras, terutama yang dapat membangkitkan sisi Konsumsi Rumah Tangga, untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi ke level 5,3% yoy di kuartal 4 2017 ini.

Oleh:

Winang Budoyo
Chief Economist Bank BTN


Baca Artikel Terkait
Makro Update | 14 Agustus 2018
Produk Domestik Bruto - EKONOMI INDONESIA MELESAT 5,27% YOY DI 2Q 2018
Konsumsi menjadi pendorong utama ekonomi di 2Q 2018Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,27% yoy di kuartal 2 tahun 2018, yang di atas perkiraan pasar sebesar 5,12% yoy. Pertumbuhan ini lebih tinggi daripada kuartal yang sama tahun 2017 ataupun kuartal 1 tahun 2018 yang masing-masing sebesar 5,01% yoy dan 5,06% yoy. TerlihatBaca Selengkapnya
Makro Update | 11 Mei 2018
SUKU BUNGA - ERA KEBIJAKAN MONETER NON KONVENSIONAL AKAN BERAKHIR
SUKU BUNGA - ERA KEBIJAKAN MONETER NON KONVENSIONAL AKAN BERAKHIREkonomi GlobalUntuk pertama kalinya sejak krisis subprime mortgage tahun 2008, pertumbuhan ekonomi global didorong oleh perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang berlangsung secara lebih merata. Perekonomian negara maju pada tahun 2017 tumbuh sebesar 2,3% yoy, yang lebih tinggi daripada pertumbuhannyaBaca Selengkapnya
Makro Update | 6 Februari 2018
HARGA BAHAN MAKANAN MENDORONG INFLASI AWAL TAHUN 2018
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi bulan Januari 2018 yang meningkat sebesar 0,62% mom yang terutama disokong oleh kenaikan harga di sektor Bahan Makanan (2,34% mom) seperti pada grafik 1 di bawah. Meskipun demikian, inflasi bulan Januari 2018 masih lebih rendah daripada inflasi bulan yang sama tahun 2017 yang mencapaiBaca Selengkapnya