(0)

Ini Faktor Pemicu Hunian di Jakarta Sangat Mahal
Berita Terkini | 17 Desember 2018
Bisnis.com, JAKARTA - Pakar perkotaan dari Jakarta Property Institute (JPI) Mulya Amri mengungkap sejumlah faktor yang membuat harga hunian di Jakarta sangat tak terjangkau.

“Terbatasnya lahan dan rendahnya luas lantai yang boleh dibangun menjadi faktor kunci kurangnya hunian di Jakarta,sehingga harga hunian di ibu kota melambung tinggi bagi seluruh strata ekonomi,” kata Mulya di Jakarta dalam keterangan resmi Minggu (16/12).

Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa kepadatan Jakarta dipenuhi oleh rumah-rumah tapak yang tersebar dan berimpitan secara horizontal, dengan demikian pembangunan seperti ini menghabiskan lahan serta membuat harga hunian meroket.

Selain itu, pengurusan izin yang kompleks dan panjang juga menjadi faktor lain yang membuat hunian di tengah kota menjadi super mahal, menurut pakar perkotaan tersebut.

“Berdasarkan studi JPI, pengembang harus menempuh waktu hingga 21 bulan dan mengacu pada 39 peraturan mengenai perizinan gedung untuk membangun gedung di atas 8 lantai dengan luas di atas 5.000 meter persegi di Jakarta,” kata pakar yang mengantongi gelar Doktor dari National University of Singapore tersebut.

Solusinya adalah dengan mendorong lebih banyak pembangunan hunian vertikal di pusat kota dan sekitarnya dengan bantuan subsidi guna menyiasati harga tanah yang tinggi.

Berikutnya, Mulya juga menjelaskan bahwa pemerintah Jakarta dapat melibatkan perusahaan milik negara atau provinsi dalam mengatasi permasalahan lahan. “Sebagai contoh, pemerintah dapat membangun rumah susun yang layak bagi calon warga yang berpenghasilan rendah di atas pasar tradisional atau terminal”, ungkapnya.

Mulya menambahkan solusi ini dapat ditawarkan kepada BUMD atau BUMN untuk mendapatkan penghasilan tambahan, “Pasar akan mendapatkan peluang bisnis lebih banyak, keluarga berpenghasilan rendah mendapatkan tempat tinggal di kota,” katanya.

Untuk mewujudkan usulan-usulan di atas, Mulya menyarankan pemerintah memiliki rencana induk yang lebih visioner. Dia mengatakan rencana induk Jakarta 2030 yang telah diterbitkan di tahun 2014 tidak memiliki visi spasial jangka panjang dan proyeksinya terlalu konservatif. Rencana tersebut mengasumsikan peningkatan jumlah penduduk Jakarta hanya 20% dari 10 juta menjadi 12 juta pada 2030.

Sumber : properti.bisnis.com

Baca Artikel Terkait
Berita Terkini | 22 Juli 2019
Hanya 18 Bank Pelaksana Ini Sukses Salurkan FLPP di Atas 50%
Bisnis.com, JAKARTABank penyalur dana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan yang berhasil menyalurkan dana tersebut di atas 50 persen berpeluang memperoleh relokasi kuota dari bank pelaksana lain yang pencapaiannya yang minim.Plt Direktur Utama Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Monhilal mengatakan bahwa bank pelaksana yang masih minim penyalurannya, kuota dana subsidinya dapatBaca Selengkapnya
Berita Terkini | 22 Juli 2019
Pasar Properti Semester Ini Akan Lebih Baik daripada Sebelumnya
Bisnis.com, JAKARTA — Satu pengembang mengatakan bahwa pasar properti pada semester kedua secara keseluruhan akan jauh lebih baik dibandingkan dengan semester pertama tahun ini."Likuiditas membaik, oversupply akan semakin terserap pasar, serta ekonomi diperkirakan tumbuh lebih baik," ujar Direktur Ciputra Group Harun Hajadi kepada Bisnis Minggu (21//7/2019).Harun berharap agar kebangkitan pasarBaca Selengkapnya
Berita Terkini | 22 Juli 2019
Suku Bunga BI Turun, Ini Dampaknya ke KPR
Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia baru baru ini menurunkan suku bunga acuannya sebanya 25 basis poin dari 6 persen menjadi 5,75 persen. Lalu, apa saja dampaknya bagi industri properti dalam jangka pendek dan jangka panjang?Vice President Coldwell Banker Dani Indra Bhatara mengatakan bahwa untuk jangka pendek kemungkinan belum akan adaBaca Selengkapnya