(0)

Konsumsi menjadi pendorong utama ekonomi di 2Q 2018
Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,27% yoy di kuartal 2 tahun 2018, yang di atas perkiraan pasar sebesar 5,12% yoy. Pertumbuhan ini lebih tinggi daripada kuartal yang sama tahun 2017 ataupun kuartal 1 tahun 2018 yang masing-masing sebesar 5,01% yoy dan 5,06% yoy. Terlihat dari grafik 1, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menunjukkan tren yang meningkat setelah mencapai titik terendahnya di kuartal 2 2015 sebesar 4,59% yoy. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27% yoy ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2014.

Grafik 1. Pertumbuhan tahunan PDB sudah melewati titik terendahnya di 2Q 2015




Sumber: BPS

Bila dihitung secara kumulatif selama enam bulan, maka pertumbuhan ekonomi pada semester 1 tahun 2018 ini mencapai 5,17% yoy, yang juga tertinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2016 dan 2017 yang masing-masing sebesar 5,08% yoy dan 5,01% yoy. Ini berarti mesin penggerak ekonomi pada tahun 2018 ini berjalan lebih cepat dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Grafik 2. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan Pengeluaran




Sumber: BPS

Konsumsi menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi di kuartal 2 2018, terutama Konsumsi Rumah Tangga. Dengan sumbangan yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi, yaitu sebesar 55,43%, menjadi suatu keharusan bagi pemerintah untuk dapat menjaga pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga dengan cara menjaga daya beli masyarakat. Dari grafik 2 terlihat bahwa selama pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga dapat tumbuh di atas 5,10% yoy maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan dapat tumbuh di atas 5,20% yoy.

Tabel 1. Pertumbuhan tahunan PDB berdasarkan pengeluaran dan sektor (industri) kuartalan




Sumber: BPS

Untuk pertama kalinya sejak kuartal 4 tahun 2016, Konsumsi Rumah Tangga kembali tumbuh di atas 5,00%, yaitu sebesar 5,14% yoy, di kuartal 2 tahun 2018. Pertumbuhan ini didorong oleh musim panen yang terus berlanjut sampai bulan Juni dan pemberian THR kepada PNS (gaji ke-13) serta penyaluran bantuan sosial (bansos) kepada kelompok masyarakat paling bawah. Extra money inilah yang mendorong masyarakat dapat meningkatkan konsumsi selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 2018. Peningkatan pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga ini ditandai dengan penjualan eceran yang tumbuh 6,42% yoy, dan penjualan sepeda motor serta mobil yang masing-masing tumbuh sebesar 18,96% yoy dan 3,25% yoy.

Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga juga mengalami peningkatan menjadi 8,71% yoy, yang lebih tinggi daripada kuartal 2 tahun 2017 maupun kuartal 1 tahun 2018 seiring dengan mulai berlangsungnya pilkada serentak di Indonesia. Sementara Konsumsi Pemerintah meningkat menjadi 5,26% yoy, seiring dengan meningkatnya penggunaan dana APBN pada kuartal 2 tahun 2018 ini. Secara keseluruhan, pertumbuhan Total Konsumsi jauh membaik di kuartal 2 dengan pertumbuhan sebesar 5,22% yoy, meningkat jika dibandingkan dengan kuartal 1 yang hanya tumbuh sebesar 4,79% yoy maupun kuartal 2 tahun 2017 yang sebesar 4,14% yoy.

Pertumbuhan Investasi mengalami koreksi menjadi sebesar 5,87% yoy di kuartal 2 tahun 2018, dibandingkan 7,95% yoy di kuartal 1 tahun 2018, terkait dengan ketidakpastian global yang mendorong terjadinya capital outflow dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara Ekspor tumbuh sebesar 7,70% yoy yang lebih tinggi daripada kuartal 2 tahun 2017 dan juga kuartal 1 tahun 2018. Impor tumbuh pesat sebesar 15,17% yoy, jauh di atas pertumbuhannya di kuartal yang sama tahun 2017, terutama didorong oleh Impor Barang Nonmigas yang terkait dengan proyek infrastruktur pemerintah.

Sementara dari sisi penawaran, seluruh sektor yang berjumlah 17 mengalami pertumbuhan yang positif dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor-sektor yang terkait Jasa. Terdorong oleh faktor musiman di kuartal 2 ini, yaitu masa panen dan libur hari raya, membuat sektor Pertanian tumbuh sebesar 4,76% yoy, sektor Transportasi meningkat sebesar 8,59% yoy dan sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh sebesar 5,75% yoy.

Meskipun sektor Pengolahan hanya tumbuh sebesar 3,97% yoy namun sub sektor Industri Makanan dan Minuman dapat tumbuh lebih tinggi yaitu sebesar 8,67% yoy yang sejalan dengan peningkatan penjualan retail makanan dan minuman terutama di level minimarket. Untuk tahun ini, belanja THR yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp36 triliun atau naik hampir 70% dibandingkan tahun sebelumnya. Akibatnya, industri Tekstil dan Pakaian Jadi juga terdorong naik sebesar 6,39% yoy yang tentunya terkait dengan meningkatnya belanja pakaian selama periode Ramadhan dan Idul Fitri yang tahun ini jauh lebih tinggi daripada periode yang sama tahun 2016 dan 2017. Secara total memang pemberian THR pemerintah berhasil mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat menjadi yang tertinggi selama tiga tahun terakhir.

Perbaikan daya beli masyarakat terlihat dari grafik 2 dimana pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga mencapai level terendah di 4,93% yoy pada kuartal 3 tahun 2017 dan setelah itu menunjukkan tren yang terus meningkat. Kondisi yang sama juga terlihat dari komponen Konsumsi Rumah Tangga yang terlihat pada grafik 3.

Grafik 3. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan jenis Konsumsi Rumah Tangga




Sumber: BPS

Pengeluaran Rumah Tangga untuk Makanan dan Minuman serta untuk Kesehatan dan Pendidikan relatif stabil karena memang pengeluarannya disesuaikan dengan kemampuan dan sudah dapat direncanakan sebelumnya. Sementara pengeluaran untuk Transportasi dan Komunikasi mengalami peningkatan pertumbuhan di kuartal 2 tahun 2018 terkait pengeluaran sepanjang periode perayaan hari raya keagamaan. Hal yang relatif sama terjadi pada pengeluaran untuk Restoran dan Hotel dimana masyarakat melakukan perjalanan sepanjang periode hari raya tersebut.

Yang menarik adalah pengeluaran masyarakat untuk piranti dan perlengkapan rumah tangga. Piranti rumah tangga meliputi konsumsi untuk membeli pakaian dan alas kaki, sementara perlengkapan rumah tangga meliputi pembelian perlengkapan seperti lemari es, televisi, mebel. Di tengah fenomena turunnya daya beli yang muncul sejak berakhirnya periode commodity boom  di tahun 2014, masyarakat terlihat mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak penting, termasuk piranti dan perlengkapan rumah tangga ini. Namun memasuki paruh kedua 2017, daya beli masyarakat sudah mulai membaik yang ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan kedua komponen ini. Terlihat bahwa rebound dari kedua komponen ini semakin terdorong setelah pemerintah mengeluarkan THR yang mendorong daya beli masyarakat.

IMPLIKASI KEBIJAKAN

Dalam kondisi ekonomi global yang masih diselimuti oleh ketidakpastian yang akan terus meningkat, penguatan ekonomi domestik menjadi suatu hal yang penting dilakukan. Kita dapat berkaca pada kondisi yang terjadi pada tahun 2009 ketika perekonomian global sedang dilanda penurunan pertumbuhan ekonomi, Indonesia tetap dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang positif karena saat itu Indonesia fokus pada memperkuat struktur ekonomi domestik.

Dalam jangka pendek, tentu saja pemerintah harus dapat mempertahankan daya beli masyarakat agar Konsumsi Rumah Tangga dapat tetap menjadi mesin pertumbuhan. Dari sisi supply, rencana pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dan tarif listrik sampai tahun 2019 dapat menjaga kestabilan harga yang berujung pada terjaganya inflasi. Dari sisi demand, kelanjutan penyaluran dana bansos, pemberian dana Desa, pembayaran gaji PNS ke-14 akan dapat memberikan fresh money bagi masyarakat untuk terus dapat berbelanja. Di samping itu, beberapa event nasional dan internasional (Asian Games, IMF/World Bank Annual Meeting, dan Pilpres) akan memberikan dorongan perputaran uang di tengah masyarakat.

Dalam jangka menengah dan panjang, upaya mendorong pertumbuhan sektor Industri Pengolahan, sektor Pertanian dan sektor Perdagangan perlu menjadi perhatian. Karena ketiga sektor ini selain mempunyai kontribusi yang tinggi terhadap PDB, juga mempunyai daya serap tenaga kerja yang besar. Kontribusi ketiga sektor ini terhadap PDB mencapai 46%, sementara daya serap atas tenaga kerja mencapai 67% dari total tenaga kerja. Sehingga bukan hanya PDB Indonesia yang membesar namun kesejahteraan masyarakatnya juga meningkat.

Dengan melihat perkembangan ini sekaligus melihat potensi yang akan muncul ke depannya, maka kami memandang bahwa tren kenaikan pertumbuhan ekonomi masih akan dapat tercapai asalkan daya beli masyarakat dapat dijaga. Fokus pada sumber ekonomi dalam negeri akan menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini, sehingga kami masih percaya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih akan berada pada kisaran 5,2%-5,3% yoy.

Oleh:

Winang Budoyo
Chief Economist bank BTN


Image Source : https://guardian.ng/


Baca Artikel Terkait
Makro Update | 14 Agustus 2018
Produk Domestik Bruto - EKONOMI INDONESIA MELESAT 5,27% YOY DI 2Q 2018
Konsumsi menjadi pendorong utama ekonomi di 2Q 2018Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,27% yoy di kuartal 2 tahun 2018, yang di atas perkiraan pasar sebesar 5,12% yoy. Pertumbuhan ini lebih tinggi daripada kuartal yang sama tahun 2017 ataupun kuartal 1 tahun 2018 yang masing-masing sebesar 5,01% yoy dan 5,06% yoy. TerlihatBaca Selengkapnya
Makro Update | 11 Mei 2018
SUKU BUNGA - ERA KEBIJAKAN MONETER NON KONVENSIONAL AKAN BERAKHIR
SUKU BUNGA - ERA KEBIJAKAN MONETER NON KONVENSIONAL AKAN BERAKHIREkonomi GlobalUntuk pertama kalinya sejak krisis subprime mortgage tahun 2008, pertumbuhan ekonomi global didorong oleh perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang berlangsung secara lebih merata. Perekonomian negara maju pada tahun 2017 tumbuh sebesar 2,3% yoy, yang lebih tinggi daripada pertumbuhannyaBaca Selengkapnya
Makro Update | 6 Februari 2018
HARGA BAHAN MAKANAN MENDORONG INFLASI AWAL TAHUN 2018
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi bulan Januari 2018 yang meningkat sebesar 0,62% mom yang terutama disokong oleh kenaikan harga di sektor Bahan Makanan (2,34% mom) seperti pada grafik 1 di bawah. Meskipun demikian, inflasi bulan Januari 2018 masih lebih rendah daripada inflasi bulan yang sama tahun 2017 yang mencapaiBaca Selengkapnya