SUKU BUNGA ACUAN BANK INDONESIA: BI mempertahankan level suku bunga acuan

20 October 2017 11:00:00
PENURUNAN SUKU BUNGA ACUAN TERHENTI

BI mempertahankan level suku bunga acuan

Sesuai dengan perkiraan kami, dalam pertemuan bulanannya tanggal 19 Oktober 2017 Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 7Day Reverse Repo Rate pada level 4,25%. BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility (DF) pada 3,50% dan suku bunga Lending Facility (LF) pada 5,00%. Kebijakan ini diambil setelah BI menurunkan suku bunga acuannya dalam dua bulan berturut-turut di bulan Agustus dan September 2017.

Ketika BI menurunkan suku bunga acuannya pada bulan Agustus dan September 2017, faktor domestik yang menjadi pertimbangan utama yaitu upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui intermediasi perbankan di tengah inflasi yang masih rendah dan rupiah yang relatif stabil.

Untuk kali ini faktor global yang menjadi pertimbangan utama, terutama rencana lanjutan normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral AS (the Fed) dan reformasi fiskal pemerintahan Presiden Donald Trump.


Grafik 1. Pergerakan suku bunga acuan Bank Sentral dan Inflasi Indonesia




Sumber: Bank Indonesia dan BPS


Perubahan faktor global terjadi pada paruh kedua bulan September 2017 yang langsung terefleksi pada pergerakan nilai tukar Rupiah seperti terlihat pada grafik 2. Meskipun Rupiah sempat menguat ke level 13.156 per USD pada paruh pertama bulan September, namun setelah itu mengalami pelemahan yang didorong oleh penguatan USD.

Penguatan USD dipicu oleh pengumuman Tax Plan Presiden Trump pada tanggal 21 September 2017 dan juga semakin menguatnya ekspektasi bahwa the Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuannya di bulan Desember 2017. Akibatnya Rupiah melemah dan menembus level 13.500 sampai saat ini.


Grafik 2. Inflasi Indonesia vs Policy Rate BI dan the Fed serta Bunga JIBOR O/N




Sumber: Bloomberg

BI akan mempertahankan suku bunga acuan dalam beberapa bulan ke depan

Dalam asesmennya, BI melihat bahwa perbaikan ekonomi Indonesia terus berlanjut yang ditunjukkan dengan ekspektasi perbaikan pertumbuhan ekonomi kuartal 3 2017 yang salah satunya ditopang oleh penyaluran gaji ke-13 PNS, penyaluran bantuan sosial dan realisasi belanja barang Pemerintah. Neraca Perdagangan juga mencatat surplus sebesar USD10,87 miliar untuk periode Januari-September 2017 yang mendorong kenaikan cadangan devisa menjadi USD129,4 miliar pada akhir September 2017.

Stabilitas sistem perbankan masih terjaga dengan masih tingginya rasio kecukupan modal (CAR) pada level 23,11% dan rasio likuiditas (AL/DPK) pada level 23,4%. Namun demikian, fungsi intermediasi perbankan masih belum bergerak signifikan yang terlihat dari masih rendahnya pertumbuhan kredit sebesar 8,3% yoy dan pertumbuhan DPK sebesar 9,6% yoy di bulan Agustus 2017. Konsolidasi perbankan dalam menjaga kualitas kredit nampaknya masih berlanjut di tengah rasio kredit bermasalah (NPL) yang tidak bergerak dari level 3,0% pada bulan Agustus 2017.

Kombinasi antara upaya mendorong intermediasi perbankan di tengah resiko gejolak faktor ekonomi global inilah yang membuat kami memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,25% sampai dengan semester 1 2018. Dan untuk dapat tetap mendorong intermediasi perbankan, yang menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional, BI akan menggunakan kebijakan moneter non suku bunga seperti LTV spasial.


Oleh:

Winang Budoyo
Chief Economist Bank BTN

Tags

Artikel Terkait

SUKU BUNGA ACUAN BANK INDONESIA

MENJAGA MOMENTUM PEMULIHAN EKONOMI INDONESIA Di tengah ketidakpastian mengenai rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (Fed Funds Rate/FFR) dan naiknya inflasi domestik di bulan Januari 2017, Bank Indonesia (BI)  mempertahankan suku bunga acuannya (7Day Reverse Repo Rate) pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diadakan pada tanggal 14 dan 16 Februari 2017. Selain itu, BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility pada 4,00% dan Lending Facility pada 5,50%. Ini berarti BI tidak mengubah suku bunga acuan sejak Oktober 2016 setelah diturunkan dari 5,00% di bulan sebelumnya (grafik 1). Keputusan BI ini merupakan upaya untuk tetap mendukung momentum pemulihan ekonomi nasional mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah dalam tren yang meningkat namun masih lemah. Pada hari yang sama Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Neraca Perdagangan bulan Januari 2017 yang surplus US$1,4 miliar karena ekspor tumbuh sebesar 27,72% yoy sementara impor naik 14,54% yoy. Motor penggerak kenaikan ekspor

Suku Bunga Acuan Bank Indonesia - Upaya Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

BI menurunkan suku bunga acuanDi tengah wacana terjadinya penurunan daya beli masyarakat Indonesia, Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuannya (7Day Reverse Repo Rate) menjadi 4,5% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diadakan pada tanggal 22 Agustus 2017. Selain itu, BI juga menurunkan suku bunga Deposit Facility pada 3,75% dan Lending Facility pada 5,25%. Ini merupakan penurunan pertama setelah BI menurunkannya pada bulan Oktober 2016 menjadi 4,75% (grafik 1).Grafik 1. Inflasi Indonesia vs Policy Rate Bank Indonesia dan the FedSumber: Bank IndonesiaKeputusan BI ini merupakan upaya untuk tetap mendukung momentum pemulihan ekonomi nasional mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah dalam tren yang meningkat namun masih lemah. Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Pertumbuhan

PENURUNAN SUKU BUNGA ACUAN BERLANJUT

BI kembali menurunkan suku bunga acuan. Sejalan dengan perkiraan kami sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuannya (7Day Reverse Repo Rate) menjadi 4,25% pada pertemuan bulanan Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia tanggal 22 September 2017. Dengan penurunan ini berarti sejak awal tahun 2016 suku bunga acuan BI sudah diturunkan sebesar 200bps.Seiring dengan penurunan policy rate, BI juga menurunkan suku bunga Deposit Facility/DF (suku bunga yang diberikan jika bank menempatkan dananya di BI) menjadi 3,50% dan bunga Lending Facility/LF (suku bunga yang dikenakan jika bank meminjam dana dari BI) menjadi 5,00% (grafik 1).Sebelumnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sudah menurunkan suku bunga penjaminan menjadi 6,00%, setelah sebelumnya ditahan di 6,25% sejak September 2016.  Ini berarti