Spinner Icon

EKONOMI INDONESIA TAHUN 2016 TUMBUH SEBESAR 5,02% YOY

Author Image
Makro Update · 7 Februari 2017

Produk Domestik Bruto

EKONOMI INDONESIA TAHUN 2016 TUMBUH SEBESAR 5,02% YOY

 

TANDA AWAL PERBAIKAN EKONOMI

Mengakhiri tahun 2016, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,94% yoy di kuartal 4, lebih rendah daripada pertumbuhan pada kuartal 4 2015 sebesar 5,04% yoy. Akibatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2016 mencapai 5,02% yoy, yang lebih tinggi daripada tahun 2015 sebesar 4,88% yoy. Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi menembus 5% di kuartal 2 dan 3 sebesar masing-masing 5,18% yoy dan 5,02% yoy. Pendapatan per kapita Indonesia juga mengalami perbaikan di tahun 2016 menjadi US$3.605,06, setelah turun di tahun 2015 ke level 3.374,49.

Grafik 1 menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sudah menunjukkan tanda awal perbaikan di tahun 2016, setelah melewati titik terendahnya di tahun 2015. Hal ini tidak terlepas dari faktor global yang terutama terkait dengan perbaikan harga komoditas dan juga faktor dari dalam negeri yang terdorong oleh adanya perubahan kebijakan struktural pemerintah. Perubahan kebijakan struktural yang dilakukan pemerintah diantaranya

a.  Dari sisi permintaan adalah dengan mendorong sumber pertumbuhan ekonomi tidak hanya pada konsumsi, melainkan pada investasi dan ekspor

b.  Dari sisi penawaran adalah dengan mendorong peranan industri manufaktur/pengolahan dan jasa

c.  Dari sisi spasial adalah dengan melakukan penyebaran kegiatan ekonomi yang tidak hanya terpusat pada pulau Jawa, terutama ke Kawasan Timur Indonesia

 

Grafik 1. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah rebound di 2016


Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

 

Di lihat dari sisi permintaan, yang ditunjukkan dengan PDB berdasarkan Pengeluaran pada tabel 1 dan grafik 2, terlihat bahwa sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dari Konsumsi, terutama Konsumsi Rumah Tangga yang pada tahun 2016 tumbuh sebesar 5,01% yoy. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami perlambatan sebesar 0,15% yoy akibat restrukturisasi APBN terkait penghematan belanja pemerintah. Secara keseluruhan, pertumbuhan Konsumsi relatif stabil akibat rendahnya inflasi yang berpengaruh positif terhadap daya beli masyarakat.

Pertumbuhan Investasi mengalami koreksi dari 5,01% yoy di 2015 menjadi 4,48% yoy di 2016 akibat meningkatnya ketidakpastian global yang terutama berasal dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kombinasi antara perbaikan ekonomi AS dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden ke-45 AS mendorong penguatan dolar AS yang berujung pada keluarnya dana-dana asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara proses rebalancing ekonomi Tiongkok menyebabkan pertumbuhan ekonominya terus turun, sehingga mengurangi peranannya sebagai motor pertumbuhan ekonomi dunia.

 

Tabel 1. PDB berdasarkan pengeluaran dan sektor (industri)


Sumber: BPS

 

Di sisi lain, meskipun pertumbuhan ekspor masih berada di teritori perlambatan (atau pertumbuhan yang negatif) namun mengalami perbaikan yaitu dari -2,12% yoy di 2015 menjadi -1,74% yoy yang didorong oleh membaiknya harga komoditas dunia. Ekspor Indonesia memang sangat tergantung pada harga komoditas karena 60% dari ekspor terkait dengan sektor komoditas dan hasil tambang. Perubahan struktural dengan mendorong peranan sektor manufaktur akan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap harga komoditi dunia.

 

Grafik 2. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan penggunaan


Sumber: BPS

Tabel 1 dan grafik 3 menunjukkan laju pertumbuhan dari sisi penawaran yang membagi ekonomi Indonesia menjadi 17 sektor atau industri. Laju pertumbuhan terbesar terjadi di sektor Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 8,90% yoy yang terus mengalami kenaikan pertumbuhan sejak tahun 2014 yang salah satunya didorong oleh penurunan suku bunga. Sektor Informasi dan Komunikasi membukukan pertumbuhan tahunan terbesar kedua di tahun 2016, meskipun menunjukkan tren yang menurun sejak tahun 2014.

Industri Pengolahan mempunyai kontribusi yang terbesar terhadap ekonomi Indonesia, yaitu sekitar 20%, namun pertumbuhannya masih rendah yaitu hanya sebesar 4,29% di tahun 2016. Karena itulah perubahan struktural dengan menekankan pada Industri Pengolahan sangat dibutuhkan untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Satu hal yang dapat dikatakan menggembirakan adalah kembali positifnya laju pertumbuhan sektor Pertambangan sebesar 1,06% yoy di tahun 2016 setelah mengalami perlambatan di tahun 2015. Membaiknya harga komoditas dunia mendorong perbaikan sektor ini.

 

Grafik 3. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan sektor


Sumber: BPS

 

Upaya Bank Indonesia (BI) mendorong pertumbuhan kredit perbankan dengan merelaksasi aturan Loan to Value (LTV) sejak Juni 2015 tampak membuahkan hasi dengan laju pertumbuhan sektor Real Estat yang meningkat menjadi 4,30% yoy di 2016, dari 4,11% yoy di 2015. Sektor Real Estat ini meliputi kegiatan penjualan atau pembelian real estat, penyewaan real estat, penyediaan jasa real estat lainnya seperti jasa penaksir real estat. Relaksasi LTV lanjutan di bulan September 2016 diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit KPR kembali pada angka double digit di tahun 2017, yang tentunya dapat terus mendorong laju pertumbuhan sektor Real Estat di tahun ini.

 

 

 

 

Grafik 4. Pertumbuhan sektor real estat dan pertumbuhan kredit bank ke sektor real estat


Sumber: BPS

 

Perkembangan PDB sektor Real Estat tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kredit perbankan ke sektor Real Estat dan juga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Grafik 4 menunjukkan bahwa relaksasi LTV yang dilakukan di bulan Juni 2015 dapat kembali mendorong pertumbuhan kredit perbankan ke sektor Real Estat sekaligus KPR yang terus menunjukkan tren yang meningkat. Dengan semakin bergairahnya supply dan demand dari sektor Real Estat maka kami percaya bahwa rebound dari sektor ini akan terus berlanjut pada tahun 2017 ini.

Jika dilihat secara spasial, ada empat kawasan di Indonesia yang mempunyai pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang lebih tinggi daripada PDB nasional yaitu kawasan Maluku dan Papua (7,5% yoy), Sulawesi (7,4% yoy), Bali dan Nusa Tenggara (5,9% yoy), dan Jawa (5,6% yoy). Kawasan Timur Indonesia mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena ekonominya bersumber pada industri perikanan, perkebunan, dan pariwisata. PDRB Jawa relatif stabil yang bersumber pada industri manufaktur (pengolahan).

 

Grafik 5. Laju pertumbuhan PDRB per Kawasan, 2015-2016

 

 

Sumber: BPS

Sementara kawasan Sumatera dan Kalimantan mempunyai pertumbuhan PDRB yanag lebih rendah dari pertumbuhan PDB nasional, yaitu masing-masing 4,3% yoy dan 2,0% yoy, karena masih mengandalkan sumber pertumbuhan ekonomi dari industri batubara, migas, dan kelapa sawit. Meskipun demikian, pertumbuhan kedua kawasan ini di tahun 2016 sudah lebih tinggi daripada tahun 2015. Keyakinan bahwa perbaikan ekonomi akan terus berlanjut di tahun 2017 salah satunya ditunjukkan dengan mulai naiknya penjualan sepeda motor di sentra-sentra pertambangan batubara, yang mencerminkan membaiknya daya berli masyarakat di kedua kawasan tersebut.

 

IMPLIKASI KEBIJAKAN

Meskipun pertumbuhan ekonomi tahun 2016 hanya sedikit lebih baik daripada tahun 2015, namun kami percaya bahwa momen percepatan pertumbuhan ekonomi sudah terjadi di Indonesia. Kami perkirakan ekonomi Indonesia tahun 2017 akan dapat tumbuh sebesar 5,2% yoy, yang terutama masih bersumber pada permintaan domestik (Konsumsi dan Investasi).

Perubahan struktural yang dilakukan pemerintah dengan mendorong perkembangan industri pengolahan (manufaktur) dan industri jasa akan memberikan efek pengganda bagi ekonomi nasional. Ekonomi Indonesia akan dapat tumbuh lebih cepat setelah tahun 2017 ketika efek dari perubahan struktural tersebut akan mulai dirasakan hasilnya.

Mulai merangkak naiknya harga komoditas dunia, terutama harga minyak, batubara, dan kelapa sawit, akan terus mendorong perbaikan ekonomi di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Perbaikan daya beli masyarakat akan mendorong permintaan mereka, yang salah satunya akan membuka peluang bagi perkembangan industri Real Estat di kawasan tersebut. Kesempatan ini tentu saja harus dapat diambil oleh sektor Perbankan dengan kembali menawarkan produk-produk funding dan lending. Dan sejalan dengan program pemerintah untuk mengembangkan kawasan di luar pulau Jawa, maka kami melihat bahwa peluang sektor perbankan untuk meningkatkan kinerja di luar pulau Jawa akan sangat terbuka, baik dari sisi penyebaran kantor cabang maupun produk perbankan.



Oleh:

Winang Budoyo
Chief Economist bank BTN

 

Artikel Terkait

Lihat Semua

Artikel Terpopuler

Lihat Semua