(0)


INFLASI

 

ADMINISTERED PRICESMASIH MENJADI SUMBER INFLASI FEBRUARI 2017

 

Bulan Februari biasanya ditandai dengan deflasi atauinflasi yang negatif karena turunnya harga-harga makanan. Meskipun kelompok Makanan mengalami deflasi di bulan Februari 2017, namun dampak lanjutan dari kenaikan tarif listrik non subsidi dan harga BBM non subsidi di bulan Januari 2017 masih terasa di bulan Februari.

Inflasi Umum pada bulan Februari 2017 mencapai 0,23% mom, yang meskipun jauh lebih rendah daripada bulan Januari 2017 sebesar 0,97% namun lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan Februari 2015 dan 2016, yang masing-masing sebesar -0.36% dan -0.09% (grafik 1). Artinya ini merupakan inflasi bulan Februari yang tertinggi sejak tahun 2015.

Dari grafik 1 tampak bahwa pendorong utama Inflasi Umum pada bulan Februari 2017 adalah Inflasi Administered sebesar 0,58% sebagai dampak lanjutan dari kenaikan tarif listrik dan harga BBM. Sementara pada bulan yang sama tahun 2015 dan 2016 justru mengalami deflasi karena pemerintah pada waktu itu justru menurunkan harga BBM. Inflasi inti bulan ini juga merupakan Inflasi Inti bulan Februari yang tertinggi sejak tahun 2015.

Dan seperti bulan Februari tahun 2015 dan 2016, Inflasi Volatile tahun ini mengalami deflasi akibat turunnya harga makanan. Namun demikian deflasi pada bulan Februari 2017 lebih kecil daripada deflasi bulan Februari tahun 2015 dan 2016.


Grafik 1 Tingkat Inflasi Februari 2015-2017 (% mom)


Sumber: BPS

 

Dilihat dari 7 Kelompok Pengeluaran, dampak lanjutan dari kenaikan tarif listrik pada bulan Januari 2017 mendorong inflasi kelompok Perumahan, yang sebesar 0,75% mom, menjadi pendorong utama inflasi bulan Februari 2017 (grafik 2). Pendorong inflasi kedua adalah kelompok Sandang, sebesar 0,52% mom, yang terutama disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan.

Kelompok berikutnya yang memberikan andil pada kenaikan inflasi bulan Februari 2017 adalah kelompok Makanan Jadi yang terutama didorong oleh kenaikan harga rokok. Sementara dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM non subsidi pada bulan Januari 2017 adalah kelompok Transportasi, sebesar 0,15% mom, yang jauh lebih tinggi dibanding inflasi kelompok ini di bulan Februari 2016 karena pada saat itu justru pemerintah menurunkan harga BBM non subsidi.

Tekanan inflasi pada kelompok Perumahan dan Transportasi akan terus berlanjut karena pemerintah akan terus menyesuaikan tarif listrik dan harga BBM non subsidi. Tarif listrik untuk untuk golongan 900VA akan kembali dinaikkan berkala pada bulan Maret dan Mei 2017 karena golongan ini sudah tidak menerima subsidi lagi. Sementara penyesuaian harga BBM non subsidi akan disesuaikan dengan kenaikan harga minyak dunia.

 

Grafik 2. Inflasi Bulanan Februari 2016 dan 2017 (% mom)


Sumber: BPS

 

Satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi pada bulan Februari 2017 adalah kelompok Makanan yaitu sebesar -0,31% mom. Setelah mengalami kenaikan harga di bulan Januari sebesar 0,66% mom, harga-harga makanan mengalami penurunan di bulan Februari yang salah satunya karena sudah memasuki masa panen. Komoditas yang menyababkan deflasi pada kelompok Makanan diantaranya cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras.

Dilihat secara tahunan, maka Inflasi Umum pada bulan Februari 2017 yang sebesar 3,83% yoy merupakan inflasi yang terendah sejak tahun 2004, kecuali Februari 2012 yang sedikit lebih rendah yaitu 3,56% yoy (grafik 3). Tetap rendahnya inflasi selama 12 bulan terakhir ini tidak terlepas dari koordinasi yang baik antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi di tengah harga minyak dunia yang masih relatif rendah. Untuk menjaga kestabilan harga di daerah, koordinasi dilakukan melalui Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang bertugas memantau dan mengendalikan kenaikan harga-harga di pasar, terutama harga-harga kebutuhan pokok. Paling tidak TPID saat ini sudah terbentuk di 480 Kabupaten/Kota dari total 514 Kabupaten/Kota di Indonesia.

 

Grafik 3. Perkembangan Inflasi Bulanan dan Tahunan


Sumber: BPS

 

Setelah mengalami inflasi yang rendah selama tahun 2015-2016, yaitu masing-masing 3,35% yoy dan 3,02%, maka inflasi akan mengalami kenaikan mulai tahun 2017 yang bersumber pada faktor-faktor dari global dan dalam negeri. Mulai merambat naiknya harga minyak dunia menjadi sumber utama inflasi global, yang nantinya akan juga terefleksi pada kenaikan harga BBM non subsidi dalam negeri. Selama harga minyak tidak naik signifikan, maka tampaknya pemerintah belum akan menaikkan harga BBM bersubsidi (Premium dan Solar).

Sementara sumber kenaikan inflasi dari dalam negeri adalah rencana kenaikan secara gradual tarif listrik. Untuk golongan 900VA sudah ditetapkan akan disesuaikan secara bertahap pada bulan Januari, Maret, dan Mei. Penyesuaian ini dilakukan karena golongan ini sudah dikeluarkan dari golongan yang mendapatkan subsidi pemerintah. Sementara golongan di atasnya akan disesuaikan seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan tarif listrik ini merupakan upaya pemerintah untuk mengalokasikan anggaran ke arah yang lebih tepat sasaran dan anggaran pemerintah dapat difokuskan pada pengeluaran yang produktif, seperti untuk infrastruktur.

Tekanan inflasi domestik akan menjadi pertimbangan Bank Indonesia (BI) dalam melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif. Ruang untuk penurunan suku bunga acuan  (BI 7days reverse repo rate) sudah tidak ada, apalagi mengingat kemungkinan bank Sentral Amerika Serikat (the Fed) akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 3 kali pada tahun ini. Kami perkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level 4,75% selama semester 1 2017 dan ada potensi untuk menaikkannya sebesar 50bps pada semester 2.

Sementara itu, BI masih akan melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif melalui kebijakan non bunga seperti perubahan GWM, kebijakan lanjutan makroprudensial dan kebijakan untuk menjaga likuiditas pasar keuangan. Karena itulah kami melihat bahwa perbankan harus tetap menjaga likuiditas dan kualitas aset masing-masing untuk dapat menghadapi ketidakpastian yang masih akan menghantui perekonomian di tahun 2017 ini.

 

Grafik 4. Perkembangan Inflasi dan Policy Rate

 


Catatan: Policy rate sebelum Agustus 2016 menggunakan BI Rate, setelah Agustus 2016 menggunakan BI 7days Reverse Repo Rate

Sumber: BPS



Oleh:

Winang Budoyo
Chief Economist bank BTN


Baca Artikel Terkait
Makro Update | 14 Agustus 2018
Produk Domestik Bruto - EKONOMI INDONESIA MELESAT 5,27% YOY DI 2Q 2018
Konsumsi menjadi pendorong utama ekonomi di 2Q 2018Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,27% yoy di kuartal 2 tahun 2018, yang di atas perkiraan pasar sebesar 5,12% yoy. Pertumbuhan ini lebih tinggi daripada kuartal yang sama tahun 2017 ataupun kuartal 1 tahun 2018 yang masing-masing sebesar 5,01% yoy dan 5,06% yoy. TerlihatBaca Selengkapnya
Makro Update | 11 Mei 2018
SUKU BUNGA - ERA KEBIJAKAN MONETER NON KONVENSIONAL AKAN BERAKHIR
SUKU BUNGA - ERA KEBIJAKAN MONETER NON KONVENSIONAL AKAN BERAKHIREkonomi GlobalUntuk pertama kalinya sejak krisis subprime mortgage tahun 2008, pertumbuhan ekonomi global didorong oleh perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang berlangsung secara lebih merata. Perekonomian negara maju pada tahun 2017 tumbuh sebesar 2,3% yoy, yang lebih tinggi daripada pertumbuhannyaBaca Selengkapnya
Makro Update | 6 Februari 2018
HARGA BAHAN MAKANAN MENDORONG INFLASI AWAL TAHUN 2018
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi bulan Januari 2018 yang meningkat sebesar 0,62% mom yang terutama disokong oleh kenaikan harga di sektor Bahan Makanan (2,34% mom) seperti pada grafik 1 di bawah. Meskipun demikian, inflasi bulan Januari 2018 masih lebih rendah daripada inflasi bulan yang sama tahun 2017 yang mencapaiBaca Selengkapnya