(0)


Bisnis.com, JAKARTA — Pasar properti diharapkan bisa mulai bangkit tahun ini. Dengan harga yang masih bertumbuh tipis, daya beli masyarakat diharapkan bisa meningkat. Nah, ada beberapa tips berdasarkan feng shui untuk membeli hunian pada tahun tikus logam ini.

Menurut pakar feng shui Yohanes Cokrowibowo atau akrab disapa Suhu Yo, mereka yang ingin membeli hunian tahun ini bisa mencari hunian yang letaknya mengarah ke utara atau selatan. Selain bisa dijadikan acuan bagi calon pembeli, hal ini juga bisa diterapkan oleh pengembang.

Suhu Yo mengatakan bahwa saat ini rumah yang mengarah ke barat atau timur kurang diminati karena sinar matahari langsung masuk ke dalam rumah. Dengan kondisi cuaca yang makin ekstrem, rumah yang menghadap barat dan timur sudah tidak lagi dianggap nyaman.

“Rumah menghadap utara atau selatan, baik yang di rumah tapak atau apartemen, tetap bisa kebagian sinar matahari, tapi tidak langsung, jadinya rumah tidak lembap dan menjadi lebih dingin dan sehat bagi penghuninya,” ungkapnya kepada Bisnis, Minggu (26/1/2020).

Selain itu, bagi mereka yang sudah memiliki rumah, juga bisa mengatur letak perabot rumah dengan mengarahkannya ke utara. Hal itu bertujuan untuk menghalau masuknya energi negatif ke dalam rumah.

“Meletakkan perabotan ke arah utara juga bisa meningkatkan energi positif ke dalam rumah. Ini selaras dengan energi yang dimiliki planet-planet. Selain menciptakan energi yang lebih positif dan menghalau energi-energi negatif, bisa juga untuk memberi suasana baru di rumah,” imbuhnya.

Selain rumah menghadap ke utara atau selatan, Suhu Yo menambahkan bahwa calon pembeli bisa mencari hunian yang berada di dalam klaster. Menurutnya, 2020 bakal menjadi tahun yang kurang aman, bisa dari segi bencana dan juga kejahatan.

“Dengan berada di dalam klaster, dia berada di satu sistem pengamanan, keluar dan masuk dari satu pintu. Dekat juga dengan tetangga, bisa saling berkomunikasi sehingga kalau ada apa-apa cepat mendapat bantuan,” tambahnya.

Pada tahun tikus logam ini, ketika membangun klister, pengembang diharapkan tidak membuat jalan buntu dan bisa membuat jalan memutar di dalam klaster.

“Rumah sekarang sudah jarang ada yang di jalan buntu, selalu punya jalan berputar. Ini lebih baik mengingat juga pada 2020 ini kemungkinan akan jadi tahun yang kurang aman. Jadi supaya akses lebih mudah untuk keluar masuk kalau ada apa-apa bisa segera diatasi,” kata Suhu Yo.


Sumber : ekonomi.bisnis.com


Baca Artikel Terkait
Berita Terkini | 30 Maret 2020
Jelang Ramadan, Sektor Properti Masih Wait and See
Bisnis.com, JAKARTA — Jelang Ramadan, pengembang properti memprediksi masyarakat dan kalangan investor masih tetap melakukan sikap wait and see menyusul mewabahnya virus corona jenis baru di Indonesia.Ketua Umum Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan permintaan hunian bersubsidi dinilai sangat tinggi jika dalam kondisi normal."Permasalahannya, Ramadan tahunBaca Selengkapnya
Berita Terkini | 30 Maret 2020
Genjot KPR, Pengembang Rumah Subsidi Rela Beri Stimulus
Bisnis.com, JAKARTA - Pengembang rumah subsidi harus rela memberikan stimulus kepada konsumen menyusul tekanan yang melanda sektor properti akibat dampak wabah corona atau Covid-19. Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan bahwa pihaknya berinisiatif memberikan keringanan terhadap kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam pembelian rumah. KeringananBaca Selengkapnya
Berita Terkini | 30 Maret 2020
Survei: Milenial Indonesia Lebih Mengincar Rumah ketimbang Apartemen
JAKARTA, KOMPAS.com - Chief Innovation Officer Shirvano Consulting Fadhila Nur Latifah Sani mengatakan, ketertarikan generasi milenial akan rumah (landed house) lebih besar ketimbang hunian vertikal. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil survei Shirvano Consulting saat melakukan penyigian pada tahun 2019 dengan mengumpulkan sebanyak 175 responden di seluruh pulauBaca Selengkapnya