(0)


Bisnis.com, JAKARTA – Produk rumah tapak dinilai masih akan menjadi segmen yang penjualannya paling potensial pada tahun ini.

Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan bahwa pangsa pasar dari subsektor properti tersebut dari tahun ke tahun cenderung stabil. 

"Pasar perumahan tapak cukup stabil. Kita pantau di Jabodetabek ada sekjtar 40 proyek pengembangan kawasan perumahan," kata Arief, Kamis (6/2/2020). 

Berdasarkan riset Cushman & Wakefield Indonesia, secara akumulatif terdapat peningkatan supply pada kuartal IV/2019 di wilayah Jabodetabek sebesar 383.258 unit atau naik dibandingkan dengan 2018 yaitu 375.258 unit. 

Secara terperinci, pasokan terbesar ada di Tangerang mencapai 61 persen, Bogor-Depok 22 persen, Bekasi 11 persen, dan Jakarta 7 persen. 

Untuk kawasan Tangerang dia mengungkapkan produk rumah tapak didominasi pasokan untuk segmen menengah ke bawah. 

Sementara itu, secara kumulatif pada kuartal IV/2019 tingkat penjualan juga mengalami kenaikan sebesar 94,5 persen atau naik bila dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 93,8 persen. 

Lebih lanjut, dia menyatakan pasa rumah tapak masih didominasi pangsa pasar milenial, pasangan muda, dan end user. Rumah yang banyak di cari adalah yang kisaran harganya Rp900 juta-Rp1,5 miliar. 

Untuk menyasar kaum milenial, Arief mengungkapkan para pengembang biasanya akan menawarkan program promosi yang menarik seperti harga yang terjangkau dan fasilitas yang memadai.

Selain perumahan, pasar apartemen pada tahun ini juga masih berpotensi bergerak. Hal itu terdorong oleh strategi para pengembang yang aktif melakukan promosi ke pasar.

Sebelumnya, REI DKI Jakarta juga memproyeksikan pasar hunian akan terus berlanjut secara positif di tahun ini menyusul kebutuhan yang semakin besar setiap tahunnya.

Ketua Umum DPD Real Estate Indonesia (REI) DPD Jakarta Arvin F. Iskandar mengatakan pasar residensial khususnya perumahan akan terus tumbuh secara simultan. 

"Growth-nya mungkin setiap tahun 5 persen dari perumahan," kata Arvin.


Sumber : ekonomi.bisnis.com


Baca Artikel Terkait
Berita Terkini | 30 Maret 2020
Jelang Ramadan, Sektor Properti Masih Wait and See
Bisnis.com, JAKARTA — Jelang Ramadan, pengembang properti memprediksi masyarakat dan kalangan investor masih tetap melakukan sikap wait and see menyusul mewabahnya virus corona jenis baru di Indonesia.Ketua Umum Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan permintaan hunian bersubsidi dinilai sangat tinggi jika dalam kondisi normal."Permasalahannya, Ramadan tahunBaca Selengkapnya
Berita Terkini | 30 Maret 2020
Genjot KPR, Pengembang Rumah Subsidi Rela Beri Stimulus
Bisnis.com, JAKARTA - Pengembang rumah subsidi harus rela memberikan stimulus kepada konsumen menyusul tekanan yang melanda sektor properti akibat dampak wabah corona atau Covid-19. Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan bahwa pihaknya berinisiatif memberikan keringanan terhadap kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam pembelian rumah. KeringananBaca Selengkapnya
Berita Terkini | 30 Maret 2020
Survei: Milenial Indonesia Lebih Mengincar Rumah ketimbang Apartemen
JAKARTA, KOMPAS.com - Chief Innovation Officer Shirvano Consulting Fadhila Nur Latifah Sani mengatakan, ketertarikan generasi milenial akan rumah (landed house) lebih besar ketimbang hunian vertikal. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil survei Shirvano Consulting saat melakukan penyigian pada tahun 2019 dengan mengumpulkan sebanyak 175 responden di seluruh pulauBaca Selengkapnya