Spinner Icon

Cicilan KPR Berapa Persen Gaji? Kupas Tuntas Semuanya di Sini

Author Image
yoyo.angelica
Info Terbaru · 31 Agustus 2022
Table of Contents:

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan solusi yang ditawarkan bagi masyarakat yang ingin segera memiliki hunian namun masih terkendala biaya. Melalui KPR, kamu bisa mengajukan pembelian rumah hanya menggunakan uang muka tanpa harus mengumpulkan dana sebesar harga rumah.

Sepintas, penawaran tersebut terdengar menggiurkan. Meski begitu, setelah akad jual beli dilangsungkan dan kamu mendapat hak kepemilikan atas rumah yang dibeli, kamu juga harus mulai menjalankan kewajiban untuk membayar cicilan KPR setiap bulan hingga habis masa pembayaran kredit.

Nah, cicilan KPR yang harus dibayarkan ini nominalnya bervariasi, yang tentunya merujuk kepada kesepakatan kamu dengan pihak bank saat perjanjian kredit.

Sebelum kesepakatan dibuat, terlebih dahulu bank akan memberikan penawaran nominal cicilan yang didasarkan pada harga properti yang akan dibeli, uang muka, tenor kredit, dan suku bunga. Selain itu, penentuan nominal cicilan kredit juga akan direfleksikan pada kemampuan kamu sebagai pihak yang berkewajiban untuk membayar angsuran.

Lantas, berapa dana yang harus dialokasikan dari penghasilan agar kamu bisa membayar cicilan KPR namun tetap menjaga stabilitas kondisi keuangan? Berikut adalah penjelasan terkait alokasi dana untuk cicilan KPR.

Berapa Cicilan KPR yang Ideal?

Sebenarnya, tidak ada jumlah pasti untuk nominal cicilan KPR yang ideal, karena setiap orang memiliki penghasilan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Meski begitu, kamu bisa memperkirakan nominal cicilan KPR yang ideal berdasarkan batas aman pembayaran hutang terhadap pemasukan pribadi (atau gabungan untuk peserta KPR yang sudah menikah).

Merujuk pakar keuangan Safir Senduk, alokasi ideal untuk cicilan utang adalah maksimal 30% dari total pemasukan, meski sebagian perencana keuangan berpendapat batas aman utang maksimal adalah 1/3 atau 33,3% dari total penghasilan. Dari pemaparan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa nominal cicilan KPR yang dibayarkan setiap bulan idealnya tidak melebihi 33,3% dari total penghasilan.

Meski begitu, ketentuan cicilan KPR maksimal 33,3% dari penghasilan hanya berlaku jika kamu tidak memiliki utang lain, seperti cicilan kartu kredit, paylater, kendaraan, dan lainnya. Jika kamu memiliki hutang lain dalam bentuk apapun, maka akumulasi dari cicilan KPR dan hutang lain yang kamu miliki haruslah tidak melampaui batas aman 33,3%.

Sebagai contoh, kamu memiliki angsuran mobil sebesar 10% dari penghasilan bulanan. Ketika mengajukan KPR, sebaiknya pilih nominal cicilan yang tidak melebihi 20,3% dari pemasukan kamu, agar persentase utang terhadap pemasukan tetap tidak melebihi 33,3%.

Penerapan batas aman utang ini bertujuan agar nantinya tidak memberatkan kondisi finansial kamu selaku debitur. Di luar kewajiban membayar utang, penghasilan yang kamu dapatkan tentunya juga dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan harian dan biaya operasional rumah.

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, tabungan, dan investasi jangka panjang juga menjadi salah satu alasan mengapa utang sebaiknya tidak melebihi 33,3% dari jumlah pemasukan. Dengan menjaga batas aman, kamu tetap bisa leluasa untuk menabung dan berinvestasi sembari menjalankan kewajiban untuk membayar cicilan utang.

Baca juga: Pahami Hal Ini Saat Cicilan Pertama Setelah Akad Kredit

Contoh Penghitungan Cicilan KPR Ideal

Dalam menentukan nilai cicilan KPR yang ideal, terlebih dahulu ketahui total penghasilan yang kamu dapatkan setiap bulannya. Selanjutnya, kamu perlu mencatat utang lain yang sedang berjalan.

Misal, kamu adalah pegawai dengan penghasilan sebesar Rp20juta. Setiap bulan, kamu harus membayar cicilan kendaraan sebesar Rp1 juta.

Nominal Rp1 juta yang harus kamu bayarkan setiap bulan adalah sebesar 5% dari total penghasilan kamu setiap bulannya. Mengikuti skema batas aman 33,3%, maka persentase nominal cicilan KPR yang akan kamu bayarkan setiap bulannya tidak boleh melebihi 28,3%.

Dalam hal ini, kamu hanya dapat mengalokasikan maksimal Rp5,6juta setiap bulan untuk pembayaran KPR.

Setelah mengetahui batas kemampuan, kamu bisa mulai mencari properti yang sekiranya cocok. Anggaplah kamu mengajukan KPR konvensional kepada pihak bank untuk membeli bangunan seharga Rp750 juta, dengan persyaratan DP 15% yaitu sebesar Rp112,5 juta.

Selanjutnya, bank akan menawarkan pilihan skema cicilan dan tenor. Jika ingin segera melunasi rumah, maka opsi paling ideal yang dapat kamu ambil adalah tenor 23 tahun dengan total cicilan dan suku bunga yang tidak melebihi Rp5,6 juta setiap bulannya.

Sebaliknya, jika kamu lebih menyukai cicilan yang ringan, kamu dapat memilih nilai cicilan KPR lebih rendah dengan konsekuensi mendapatkan tenor yang lebih panjang.

Jika membutuhkan insight yang lebih detail terkait nominal cicilan KPR yang ideal dengan kemampuan finansialmu, cobalah untuk berkonsultasi dengan mendatangi kantor cabang dari bank penyelenggara KPR.

Atau kamu juga dapat melakukan simulasi kredit menggunakan tools yang tersedia di laman BTN Properti. Dari hasil penghitungan tersebut, kamu akan dapat mengetahui berapa uang yang harus kamu persiapkan untuk biaya awal KPR seperti untuk biaya pajak, uang muka, biaya bank, dan lain sebagainya. Kamu juga bisa mengetahui besaran cicilan yang harus dibayarkan. Selain itu, di website BTN Properti kamu juga bisa mengetahui harga properti ideal yang bisa kamu ambil berdasarkan kondisi kamu saat ini.

Tips untuk Menjaga Stabilitas Kondisi Keuangan di Masa Pembayaran KPR


Selain menjaga batas aman cicilan KPR, di bawah ini juga terdapat tips tambahan yang dapat kamu lakukan agar kondisi keuangan tetap stabil selama pembayaran kredit berlangsung.

1. Kelola Pengeluaran dengan Bijak

Selain menjalankan kewajiban membayar cicilan KPR tepat pada waktunya, bentuk komitmen terhadap pelaksanaan program KPR juga dapat direfleksikan dari caramu mengelola keuangan.

Selama masa tenor, kamu tentu menyadari bahwa sebagian dari penghasilan bulanan akan dialokasikan untuk membayar utang. Di sisi lain, kamu juga tetap perlu memenuhi kebutuhan harian dan operasional.

Dalam situasi tertentu, ada kalanya kamu merasa kewajiban untuk membayar cicilan KPR terasa berat. Jika situasi seperti itu terus menerus berlanjut, maka kamu perlu mengevaluasi keuanganmu.

Prioritaskan pengeluaran untuk hal-hal esensial saja. Selain itu, kamu juga sebaiknya mengurangi alokasi dana untuk kebutuhan lifestyle dan hiburan.

Jika telah melakukan hal-hal diatas namun cicilan KPR masih terasa berat, mungkin kamu perlu mempertimbangkan opsi untuk mencari pekerjaan sampingan. Dengan begitu, kamu dapat mengendalikan stabilitas kondisi keuangan agar kembali normal.

2. Alokasikan Dana Darurat sebesar 10% dari Penghasilan

Perubahan sering kali membawa hal-hal tidak terduga dalam hidup, begitupun halnya dengan kondisi finansial. Meski begitu, perubahan ini tidak lantas memberi keringanan dari kewajiban pembayaran cicilan KPR setiap bulannya.

Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk menyisihkan dana darurat sekurangnya 10% dari penghasilan bulanan. Mengapa demikian?

Anggaplah terjadi sesuatu yang menyebabkan kamu tidak dapat mengandalkan sumber pemasukan utama untuk membayar cicilan KPR. Dana darurat yang telah kamu siapkan sebelumnya bisa menjadi back-up untuk menutup sementara cicilan KPR untuk beberapa bulan ke depan sampai kondisi keuanganmu kembali normal.

Dengan begitu, kamu tetap bisa melewati masa-masa sulit tanpa harus khawatir menunggak cicilan KPR. Kamu juga bisa lebih tenang karena tidak harus kehilangan properti yang sudah kamu upayakan dengan susah payah.

Baca juga: DANA DARURAT? WAJIB TAHU DAN WAJIB PUNYA!

Keuangan Aman, Cicilan KPR Tak Jadi Beban

Sebagai pelopor program KPR di Indonesia, BTN merupakan partner yang ideal untuk mewujudkan impian kamu memiliki hunian. Cek website BTN Properti untuk menemukan rumah impianmu dan promo KPR yang bisa kamu dapatkan.

Tunggu apa lagi? Ajukan KPR melalui BTN Properti sekarang.

 

Artikel Terkait

Lihat Semua

Artikel Terpopuler

Lihat Semua