Spinner Icon

Inflasi pada Januari 2022 Dipicu oleh Meningkatnya Kelompok Makanan dan Minuman

Author Image
Nabila Azmi
Daily Report · 12 April 2022

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi inflasi sebesar 0,56% mom dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,26 pada Januari 2022. Dari 90 kota, 85 kota mengalami inflasi dan hanya 5 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,53% mom dan terendah terjadi di Manokwari sebesar 0,02% mom. Tingkat inflasi Januari 2022 dibandingkan akhir tahun 2021 yaitu sebesar 0,56% ytd dan tingkat inflasi tahunan dibandingkan Januari 2021 yaitu sebesar 2,18% yoy.

Grafik 1. Inflasi Bulanan Januari 2022 dan 2021 Berdasarkan Kelompok (% mom)


Sumber: BPS

Inflasi di bulan Januari 2022 terjadi karena kenaikan harga sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,17% momkelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,43% momkelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,51% mom; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,79% momkelompok kesehatan sebesar 0,24% momkelompok transportasi sebesar 0,02% momkelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,41% momkelompok Pendidikan sebesar 0,08% momkelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,36% momdan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,62% mom. Sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami penurunan sebesar 0.13% mom. (Grafik 1).

 

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Januari 2022, antara lain: daging ayam ras, ikan segar, beras, telur ayam ras, tomat, rokok kretek, bawang merah, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, kontrak/sewa rumah, sabun detergen, upah asisten rumah tangga, dan mobil. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain: cabai merah, tarif angkutan udara, dan biaya administrasi transfer uang.

 

Sementara dari 11 kelompok pengeluaran, 9 kelompok menyumbang inflasi, 1 kelompok menyumbang deflasi, serta 1 kelompok tidak memberikan andil terhadap inflasi nasional. Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi, yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,30%kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,02%kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,10%kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,05%kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,03%dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,04% Sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan menyumbang deflasi sebesar 0,01% dan sektor transportasi tidak memberikan andil terhadap inflasi nasional (Grafik 2).

 

Grafik 2. Sektor Penyumbang Inflasi Bulan Januari 2022 (%)


Sumber: BPS

Inflasi Umum pada Januari 2022 sebesar 0,56% mom, sedikit menurun dibandingkan inflasi Desember 2021 sebesar 0,57% mom. Perkembangan ini dipengaruhi oleh penurunan inflasi kelompok volatile food dan administered prices, di tengah kenaikan inflasi inti. Kelompok inti pada Januari 2022 mencatat inflasi sebesar 0,42% mom, meningkat dibandingkan inflasi bulan Desember 2021 yang sebesar 0,16% mom. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh inflasi komoditas mobil serta kontrak dan sewa rumah seiring pola musiman awal tahun dan peningkatan mobilitas masyarakat. Sementara deflasi biaya administrasi transfer uang seiring dengan implementasi BI-FAST menahan kenaikan inflasi inti lebih lanjut.

Grafik 3. Tingkat Inflasi Januari 2018-Januari 2022 (% mom)


Sumber: BPS

Kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 1,30% mom pada Januari 2022, melambat dibandingkan inflasi Desember 2021 sebesar 2,32% mom. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh deflasi komoditas cabai merah seiring masuknya periode panen di beberapa sentra produksi. Sementara inflasi komoditas daging dan telur ayam ras menahan perlambatan inflasi kelompok volatile food yang lebih dalam. Sedangkan kelompok administered prices pada Januari 2022 mencatat inflasi sebesar 0,38% mom, melambat dibandingkan inflasi Desember 2021 sebesar 0,45% mom. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh deflasi angkutan udara seiring normalisasi harga pascalibur Natal dan Tahun Baru. Sementara inflasi bahan bakar rumah tangga akibat penyesuaian harga LPG nonsubsidi, serta aneka rokok seiring dampak kenaikan cukai tembakau menahan perlambatan inflasi kelompok administered prices lebih lanjut.  (Grafik 3).

Grafik 4. Perkembangan Inflasi Bulanan dan Tahunan Sejak Januari 2005


Sumber: BPS

Inflasi Umum (Headline) pada Januari 2022 secara tahunan tercatat sebesar 2,18% yoy, lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yaitu sebesar 1,87% yoy. Pemerintah dan Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah guna mengendalikan inflasi 2022 sesuai kisaran targetnya 3,0±1%. (Grafik 4).

Inflasi inti secara tahunan di Januari 2022 tercatat sebesar 1,84% yoy, meningkat jika dibandingkan dengan inflasi Desember 2021 sebesar 1,56% yoy. Inflasi inti tetap rendah seiring permintaan domestik yang mulai meningkat, stabilitas nilai tukar yang tetap terjaga dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi. Inflasi kelompok volatile food secara tahunan juga mengalami peningkatan menjadi 3,35% yoy setelah pada bulan sebelumnya sebesar 3,20% yoy. Sedangkan kelompok administered price secara tahunan juga mengalami peningkatan menjadi 2,37% yoy, dari 1,79% yoy di bulan sebelumnya.

Dalam Rapat Dewan Gubernur bulan Januari 2022, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada level 3,50%. Keputusan tersebut sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan sistem keuangan serta upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

 

Grafik 5. Inflasi dan Suku Bunga Acuan BI sejak Januari 2005


Sumber: BI & BPS

Untuk melanjutkan pemulihan ekonomi nasional lebih lanjut pada tahun 2022, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi nasional. Kami memperkirakan pada tahun 2022 inflasi masih akan berada pada koridor 3,0±1% sehingga inflasi domestik belum akan menjadi pendorong kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Sementara secara global inflasi justru menunjukkan kenaikan yang mendorong bank sentral global menaikkan suku bunga acuan mereka. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebijakan yang akan diambil oleh Bank Sentral AS, The Fed. Awalnya pasar memperkirakan The Fed akan dua kali menaikkan suku bunganya pada tahun 2022, namun karena inflasi AS terus meningkat maka kali ini pasar memperkirakan bahwa kenaikan yang dapat terjadi pada tahun ini dapat mencapai 5 kali atau ada kenaikan sebesar 125bps di sepanjang tahun 2022. Kenaikan pertama diperkirakan akan dapat dimulai di Bulan Maret 2022.

Menghadapi kondisi ini, Bank Indonesia tentunya akan terus menjaga posisi agar tidak behind the curve dengan mengikuti perkembangan kebijakan The Fed ini. Dengan inflasi domestik yang masih dalam koridor targetnya maka faktor pendorong kenaikan suku bunga acuan BI adalah penguatan US Dollar (atau pelemahan rupiah) ketika The Fed mulai menaikkan suku bunga acuannya. Sehingga jika sebelumnya kami perkirakan BI7DRR akan naik di semester II 2022, kali ini bisa saja sudah naik di semester I 2022.

 

 

 

Artikel Terkait

Lihat Semua

Artikel Terpopuler

Lihat Semua