Spinner Icon

Penjualan Rumah Bersubsidi di Jateng Akan Terdongkrak

Author Image
Berita Terkini · 21 April 2017
Bisnis.com, SEMARANG - Real Estat Indonesia Jawa Tengah menargetkan penjulan rumah bersubsidi dengan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan atau FLPP mencapai 16.000 unit tahun ini.


Menurut Wakil Ketua Real Estat Indonesia (REI) Jawa Tengah Bidang Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana Andi Kurniawan, target itu lebih besar dari tahun lalu yang mencapai sekitar 14.000 unit.


Adapun realisasi penjualan pada kuartal I/2017 menurutnya sudah mencapai sekitar 3.000 unit. Kendati raihan tersebut belum sesuai ekspektasi, lanjut dia, pihaknya masih optimistis target pada 2017 akan tercapai.


“Pasar FLPP ini masih potensial karena segmen ini tak terpengaruh gejolak politik. Di sisi lain, pada kuartal pertama itu waktu tersita izin dan pembangunan, jadi penjualan diperkirakan akan meningkat pada kuartal selanjutnya,” katanya, di sela-sela pembukaan REI Ekspo, Kamis (20/4/2017).


Di sisi lain, menurutnya, saat ini proses pembelian rumah bersubsidi dengan FLPP masih belum sesuai harapan pelaku usaha. Sebabnya, perbankan harus hati-hati melakukan penyaluran kredit karena melibatkan dana APBN yang dikelola Badan Layanan Umum (BLU) FLPP Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.


Hal itu dinilai memperlambat proses penjualan. Oleh karena itu pihaknya berharap perbankan dapat menemukan format lebih baik sehingga prosesnya dapat lebih cepat. Kendati menargetkan pertumbuhan, menurutnya masih ada kendala dalam program FLPP.


Masalah utama adalah pengadaan lahan. Di wilayah Jawa Tengah, lahan yang dapat dikembangkan menjadi perumaahan dengan FLPP harus berharga paling mahal Rp200.000 per m2 sehingga harga rumah bisa memenuhi plafon yaitu Rp123 juta.


Untuk mendapatkan harga tersebut, wilayah yang dekat dengan kota Semarang yang bisa dikembangkan adalah Demak, Kendal dan Ungaran. Kendala lainnya, menuju daerah-daerah tersebut belum tersedia infrastruktur transportasi yang memadai, sehingga pihaknya berharap pemerintah membangun sarana tersebut.


Selain itu, pemerintah provinsi diharapkan dapat mengarahkan pemerintah kota dan kabupaten untuk mendorong pembebasan aset tanah daerah yang kurang produktif, agar dijadikan perumahan bersubsidi sesuai arahan pemerintah pusat.


Sementara itu, ditemui dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Bidang Promosi, Humas dan Hubungan Antar Lembaga REI Jawa Tengah Dibya Krisnanda Hidajat mengatakan pihaknya optimistis target penjualan properti di luar rumah bersubsidi tahun ini akan tercapai.


Sebelumnya, pihaknya menargetkan pertumbuhan penjualan properti di semua segmen mencapai 20% pada 2017, setelah dalam dua tahun terakhir terpukul pelambatan ekonomi. Dia menyebut, puncak penjualan properti di Jawa Tengah terjadi pada 2014 dengan kuantitas mencapai sekitar 13.000 unit.


Tahun berikutnya jumlahnya turun menjadi sekitar 10.000 unit. Pada 2016 jumlahnya kembali merosot menjadi sekitar 8.000 unit. Optimisme tersebut menurutnya hadir karena suku bunga KPR saat ini sangat menarik dan kompetitif dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.


“Terutama dari bank BUMN, fixed rate paling berpengaruh terhadap potensi penjualan karena konsumen itu takut dengan suku bunga yang berfluktuasi. Fixed rate itu tanda kestabilan ekonomi,” ujarnya.


Optimisme itu, lanjutnya, tercermin pula dari penjualan pada pameran yang dilakukan REI Jawa Tengah. Pada bulan pertama dan kedua 2017 rata-rata penjualan hanya di kisaran 40 unit. Angkanya naik menjadi 50 unit pada bulan ketiga. Tahun ini pihaknya akan menyelenggarakan 10 kali pameran untuk menstimulus pasar.


Dia menambahkan, penjualan pada kuartal I/2017 memang belum sesuai harapan meski kondisi ekonomi membaik. Dia memperkirakan, penjualan akan meningkat pada kuartal berikutnya dengan harapan kondisi politik nasional tetap terjaga.


 

Artikel Terkait

Lihat Semua

Artikel Terpopuler

Lihat Semua